IBU BHAYANGKARI DAN POLWAN SEJAJARAN TATAP MUKA DENGAN KAPOLDA SUMUT


image_pdf

img_3756

Medan | IPO – Dalam rangka memperingati hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-64 dan hari jadi Polwan ke-68, diadakan tatap muka Kapolda Sumut dengan Bhayangkari dan Polwan sejajaran Polda Sumut di Aula Tribrata Polda Sumut, Jumat (9/9) pagi. Setelah tatap muka, acara dilanjutkan dengan ceramah tentang kesehatan oleh Tim dari Bid Dokkes Polda Sumut.

Acara tatap muka dihadiri Kapolda Sumut Irjen Pol Drs Raden Budi Winarso, Ibu Ketua Bhayangkari Ning Raden Budi Winarso, para Pejabat Utama Polda Sumut, Kapolres/ta sejajaran, Bhayangkari dan Polwan/PNS Polda Sumut.

Ibu Ketua Bhayangkari dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Kapolda selaku Pembina Bhayangkari yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan arahannya kepada seluruh Bhayangkari dan Polwan, agar dapat menjalin hubungan dengan baik.

Sementara itu, Kapolda Sumut dalam arahannya mengatakan, mendasari Program Nawacita Presiden Point ke- 8 yaitu melakukan Revolusi Karakter Bangsa/Revolusi Mental dan Program Promoter Kapolri Point ke-1 yaitu pemantapan revolusi internal Polri, Bhayangkari dan Polwan adalah bagian dari keluarga besar Polri wajib mendukung program dan kebijakan pemerintah, terutama program revolusi mental yang harus dimulai dari lingkungan sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, lingkungan kerja adalah untuk Kemudian, mewujudkan keluarga sakinah, karena keluarga adalah sebuah elemen terkecil tapi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membangun peradaban suatu negara, dimana keharmonisan rumah tangga akan berdampak kepada keharmonisan interaksi sosial, bahkan berpengaruh terhadap karir suami/istri dalam bertugas.

“Ibu Bhayangkari dan Polwan harus bijak membagi waktu antara organisasi/dinas dengan urusan rumah tangga, memberi perhatian yang cukup untuk mendidik anak dan melayani suami,” ujarnya. Kapolda juga mengharapkan kepada Ibu Bhayangkari dan Polwan harus bisa menerapkan hidup sederhana, jangan berpenampilan glamour yang dapat memancing kecemburuan sosial, sikap hedonis dan eksklusif yang dapat merusak citra polri.

“Pemanfaatan media sosial gunakan yang sebaik-baiknya yang bersifat positif. Jangan mengupload foto-foto pribadi ke media sosial, itu akan berdampak negatif baik untuk diri sendiri, keluarga dan Polri, jadikan agama sebagai panduan untuk keluarga,” sebutnya. (Dedi The,ST)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*