Terima Kasih Pak Wali Kota Medan Semoga Anak Baya Bisa Sembuh


image_pdf

Walikota menjenguk anak sakit tumur kelenjar di Perumahan Bumi asri Marelan dan mengantar ke RS B (15)

 

Medan | IPO

Kasihan benar nasib Novita Anggreni.  Bocah perempuan berusia 10 tahun itu hanya bisa pasrah  dengan penyakit yang  menggerogoti  tubuh kurusnya . Akibat  benjolan sebesar telur ayam yang tumbuh di leher sebelah kirinya sejak setahun silam, kondisi kesehatannya pun semakin memburuk.  Selain tubuhnya semakin menyusut,  Novita pun mudah diserang demam dan batuk-batuk.  Untuk mengobati penyakitnya, rasanya seperti mimpi karena orang tuanya tidak memiliki pekerjaan tetap. Jangankan untuk berobat, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sudah kesulitan dan mengharapkan belas kasihan warga yang iba.

Kemiskinan itu membuat Novita hanya  bisa menangis.  Di samping tidak bisa berobat, anak ketujuh dari delapan bersaudara ini pun tidak pernah mengecap sekolah. Kemiskinan itu jugalah yang membuat  abang kandungnya yang berusia 23 tahun, harus menghadap Sang Khalik akibat penyakit yang sama tidak pernah diobati secara medis. Air mata Novita pun sudah mengering, dia pun pasrah seandainya harus menyusul abang  tercinta  menghadap Sang Pencipta.

Di tengah kepasrahan  Novita,  Wali kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi mendengar penderitaan bocah kurus berkulit sawo matang itu, termasuk kemiskinan yang dialami keluarganya. Senin (19/4), Wali Kota pun langsung menyambangi kediamannya di Jalan Perumahan Bumi Permai  Gg. Mekar, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan. Di rumah sewa sangat sederhana berukuran lebih kurang 4 x 6 meter dan berdinding tepas , Novita tinggal bersama keluarganya.

Ketika Wali Kota datang, Novita tidur di lantai semen beralas tikar kumuh didampingi Syafril (50), ayahanda tercinta beserta beberapa saudaranya. Mantan Sekda Kota Medan itu pun tak kuasa menahan rasa haru melihat kondisi Novita, termasuk kemiskinan yang menggerus hidup mereka. Eldin pun tak banyak berkata-kata, matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca. Setelah memeriksa kondisi tubuh Novita, dia pun langsung memerintahkan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera membawa ke Rumah sakit Bandung di Jalan Mistar Medan, guna mendapatkan perawatan intensif.

Berhubung mobil tidak bisa masuk  akibat  jalan  menuju rumah Novita sangat kecil dan hanya bisa dilalui sepeda motor, Novita pun harus digendong ayahnya menuju mobil ambulan yang sudah menunggu di jalan besar yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya dituntun langsung Wali Kota. Puluhan warga sekitar pun tak kuasa menahan rasa haru, saat Wali Kota membawa bocah malang itu berobat. Sebab, mereka pun sudah tidak tega lagi menyaksikan penderitaan yang dialami Novita tersebut.

Wali Kota terus mendampingi Novita sampai tiba di Rumah Sakit Bandung. Begitu turun dari mobil ambulan, Eldin pun langsung meminta petugas medis yang ada segera membawanya ke ruang ICU.  Novita kemudian menjalani perawatan intensif dan ditangani dr Alex Tarigan. Kondisi kesehatan Novita  semakin menurun, selain demam, dia pun mengalami dehidrasi sehingga kekurangan cairan tubuh dan  batuk-batuk.  Sebelum dilakukan pemeriksaan lebih mendalam, Novita kemudian diberi obat untuk menurunkan demam dan diinfus.

Setelah menjalani perawatan, Novita pun selanjutnya di bawa  ke ruang inap. Wali Kota mengatakan, benjolan yang ada di leher  terjadi sejak satu tahun silam. Orang tuanya mengira benjolan itu hanya bisul biasa dan dibiarkan saja. Lama kelamaan benjolan itu semakin membesar dan kini sebesar telur ayam kampung. “Pembesaran benjolan itu kemudian diikuti dengan penurunan berat tubuh, sehingga Novita terlihat kurus,” kata Wali kota.

 Untuk itulah begitu mendengar kabar Novita membutuhkan perawatan medis guna menyembuhkan penyakitnya, Eldin pun mengaku langsung turun dan membawanya ke RS Bandung guna menjalani perawatan intensif. “Saya telah berbicara dengan pihak rumah sakit. Saya minta Novita supaya benar-benar dirawat dan benjolah di lehernya diperiksa agar diketahui apa penyakit sebenarnya,” jelasnya.

Wali Kota berharap penyakit Novita dapat disembuhkan sehingga dia dapat melakukan aktifitas kembali. Eldin tidak mau kejadian yang menimpa abang Novita kembali terulang. Untuk itulah dirinya aakan terus memantau  perkembangan kesehatan Novita. Sebab, masalah kesehatan saat ini merupakan salah satu prioritas utamanya. “Insya Allah dengan perawatan yang dilakukan, penyakit Novita dapat disembuhkan,” harapnya.

Atas dasar itulah Wali kota menghimbau kepada seluruh masyarakat, terutama dari kalangan kurang mampu yang  membutuhkan perawatan medis namun tidak memiliki uang, segera  laporkan kepada luran maupun camat di wilayah tinggalnya masing-masing. Dipastikannya, laporan itu segera ditindaklanjuti dan yang bersangkutan akan mendapatkan perawatan medis.

“Walaupun warga tidak memiliki BPJS, kita siap membantunya. Untuk itu segera laporkan kepada camat dan lurah setempat. Saya tidak mau ada warga yang tidak berobat akibat ketiadaan dana,” ungkapnya.

Sementara itu dr Alex Tarigan yang menangani penyakit Novita mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara dan gejala-gejala yang dialami seperti demam tinggi dan batuk , dugaan sementara novita terkena penyakit tubercolosis kelenjar. Untuk lebih memastikannya, Alex akan memeriksa cairan dari benjolan di leher Novita.

“Untuk sementara kita turunkan dulu demamnya, termasuk mengobati batuknya. Setelah itu kita lakukan patalogi anatomi untuk memastikan apakah benjolan itu tubercolosis kelenjar atau tumor. Jika pun tumor, kita pastikan apakah itu ganas atau tidak. Setelah itu baru kita lakukan langkah-langkah penyembuhannya,” jelas Alex.

Sedangkan menurut Syafril, dia sebelumnya hanya bisa pasrah dengan penyakit yang diderita putrinya tersebut. Sebab, pria  bertubuh kurus ini tidak punya uang akibat dirinya tidak memiliki pekerjaan tetap. Akibat ketiadaan dana itulah, Syafril pun mengaku abang Novita meninggal dunia setelah menyakit yang sama menggerogoti tubuhnya lantaran tidak pernah sekalipun mendapatkan perawatan medis.

Dijelaskannya Syafril, dirinya harus merawat Novita sendiri sejak berusia 3 bulan setelah istri tercinta meninggal dunia. Sebelum istrinya meninggal,  mereka sempat berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Setelah istri meninggal, saya tidak berjualan lagi. Saya harus mengurus anak-anak. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya kerja apa saja yang bisa menghasilkan uang dan mengharapkan belas kasihan warga yang merasa iba. Jadi saya sangat berterima kasih atas bantuan Bapak Wali Kota ini. Semoga penyakit anak saya ini bisa disembuhkan,” ujar Syafril  jujur.

(Rudi Hartono)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*